Prologue
Mungkin cerita ini terasa klise dan berlebihan. Tapi apa yang kuceritakan memang apa yang benar-benar kurasakan. Ya, cerita tentang beberapa orang yang telah kuanggap sebagai keluargaku sendiri. Segelintir orang yang selalu bisa mendengarkanku, membuatku tertawa disaat aku down, orang-orang yang selalu membuatku merasa nyaman disekitar mereka. Ya, mereka. Sosok keluargaku disekolah yang selalu menganggapku sebagai seorang adik karena memang aku yang termuda diantara mereka. Tetapi aku senang. Aku bahagia dapat selalu bersama mereka, walaupun aku tau waktu kami bersama tidak akan lama lagi. Kurang dari seminggu lagi hidupku tak akan seperti ini. Bukannya tidak akan sempurna lagi. Tetapi selayaknya kehilangan seorang anggota keluarga, walaupun nanti tetap dapat bertegur sapa dan berkumpul bersama lagi. Kami tetap akan menjadi keluarga di satu sekolah. Dan walaupun jumlah kami akan berkurang, tepatnya 'pasti' berkurang, hubungan kami tidak akan lagi sedekat sekarang, sampai kapanpun mereka akan tetap menjadi keluargaku.
Winding back...
"Mereka seperti orang asing bagiku"
Sepulang sekolah aku menuju ruang Indonesia. Rambutku dikepang prancis hari itu (mamaku menyebutnya kelabang. Aku juga lebih suka menyebutnya kelabang). Aku telah membulatkan tekadku. Ya, dari dulu aku selalu ingin mengikuti organisasi itu. Aku tidak dapat bergabung dalam organisasi itu sewaktu SMP karena memang aku merupakan siswa kelas akselerasi saat sekolah menengah pertama. Pada saat itu aku hanya memiliki satu keluarga di sekolah. 4th Limit. Dan saat technical meeting, hanya segelintir orang yang aku kenal. Tidak mencapai 5 orang. Lalu setelah technical meeting, kami berembug. Pada saat itulah aku meresakan suatu kedekatan. Suatu kehangatan dimana aku merasa nyaman. Kamipun mulai bertukar nomor handphone. Aku mulai mengenal mereka satu per satu. Menghafal setiap nama dan wajah mereka. Mereka unik. Remarkable. Itu kesan pertama yang aku dapat.
"Kami semakin dan semakin dekat"
Kami berkumpul kembali membahas pensi. Kami semakin dekat tentunya. Setelah persiapan akhirnya datanglah hari-H. Ada perasaan seperti kupu-kupu yang terbang didalam perutku. Perasaan berdebar-debar. Senang dan optimis. Kami menjalani hari itu dan keesokan harinya bersama-sama. Sampai sekarang aku masih mengingat 2 hari itu. Spesial. Tidak terlupakan. Hari dimana aku mendapatkan suatu keluarga yang amat sangat mengerti aku. Ya, hari itu mereka adalah keluarga baruku. Dan aku beruntung bisa memiliki mereka.
Tugas demi tugas kami lalui bersama-sama. Kami lebih sering dan lebih sering lagi berkumpul bersama. Lambat laun aku semakin tidak bisa jauh dari mereka. Tidak dapat seharipun dengan teganya sepulang sekolah aku langsung pulang begitu saja tanpa sekedar ber say "hi" atau kumpul bareng mereka. Mereka motivatorku. Pahlawanku. Aku belajar banyak dari awal bertemu mereka sampai sekarang. Dulu aku tidak seberisik sekarang. Dulu aku tidak suka berbicara di depan umum. Perutku selalu terasa aneh jika maju ke depan umum dan menyatakan pendapat. Tetapi sekarang aku senang menyatakan pendapat. Senang berbicara. Senang dapat mengeluarkan isi pikiran, beraspirasi.
Dan juga aku menyadari betapa berharganya mereka bagiku. Orang-orang yang selalu mensupport aku. Yang selalu mendengarkan curhatanku yang tidak jarang merupakan curahan hati yang tidak penting. Mereka menerimaku apa adanya. Sifatku yang masih kekanak-kanakan, yang kadang-kadang membuat mereka jengkel. Tapi mereka tetap menerimaku. Mereka tidak pandang bulu. Tidak memiliki kubu-kubu sendiri. Tidak egois. Dan akupun berusaha sekeras mungkin untuk membuat mereka tersenyum. Berusaha menjadi keluarga yang baik dan berguna bagi mereka. Karena mereka semua tidak hanya ada saat sedang butuh saja, tetapi mereka semua selalu ada disaat aku membutuhkan mereka. Yes, they do. That's why I call them my heroes and my heroines.
Epilouge
"Selamanya mereka adalah keluargaku"
Mereka masih menjadi keluargaku saat ini. Selamanya mereka tetap keluargaku. Aku sealu ingin berada di dekat mereka setiap saat. Merasakan kehangatan disaat bersama. Tertawa riang, sharing satu sama lain. Aku merasa beruntung Tuhan memberikanku jalan seperti ini. Aku tidak dapat menentukan jalan kedepan. Aku hanya dapat berusaha dengan sekuat tenaga disertai niat yang kuat untuk dapat mencapai tujuanku. Tetapi Tuhan telah menciptakan jalan-Nya sendiri untukku. Apabila memang sudah menjadi jalanku, aku akan menerimanya dan terus berusaha kedepannya. Tetapi apabila bukan merupakan jalanku, aku masih punya jalan-jalan lain. Banyak ilmu yang kudapat selama 3 bulan-an ini. Dan aku tidak akan menyesal apabila memang itu bukan jalanku. Malah aku merasa menjadi gadis paling beruntung sedunia karena telah diberi keluarga dan ilmu yang tidak kudapat dari pelajaran sehari-hari. Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan semua ini kepadaku ;)
"Thanks to..."
Terima kasih kakak-kakak yang telah memberikan banyak ilmu kepada kami semua. Terima kasih keluargaku yang selama ini telah mensupport aku. Walaupun sebentar lagi kita tidak akan sedekat ini lagi, tetapi kita tetap keluarga kan? Terima kasih untuk Tuhan yang telah memberikan keluarga-keluarga yang baik untukku. Keluargaku di rumah yang selalu endukung setiap langkah yang kupilih. Keluargaku di kelas yang selalu mengerti keadaanku dan tidak pernah membeda-bedakan teman, keluargaku di suatu organisasi (yah, mungkin sesuatu yang dapat disebut organisasi. Atau perkumpulan?) yang telah menerimaku, mengajari banyak hal, yang membuatku selalu tertawa, yang selalu membantuku, dan yang-yang lainnya yang tidak dapat kusebutkan satu per satu. Terima kasih semua. Thanks in a million times. :')
Sincerely,
Kansha
Labels: family, friends, school



